Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asal-Usul Nama Kabupaten Batang (Raden Bahurekso, Raja Uling)

Asal usul nama Batang pada Kabutapen Batang. Bagi pembaca yang baru mendengar nama kabupaten Batang, akan kami sampaikan letak geografis dari kabupaten Batang ini. Secara umum, kabupaten Batang berada di pulau Jawa, tepatnya di Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah utara kabupaten Batang terdapat laut Jawa, sedangkan di bagian selatan terdapat dataran tinggi Dieng dan gunung Prau yang mengakibatkan banyak sekali perbukitan dan pegunungan di sebagian besar wilayah kabupaten Batang.

Sebagaimana tempat-tempat lainnya di nusantara, Batang juga memiliki kisah awal mula diberi nama Batang. Kisah asal usul nama Batang ini ada kaitannya dengan sejarah kerajaan Indonesia yaitu kerajaan Mataram Islam. Untuk mengetahui lebih jelasnya, mari kita simak asal usul berikut ini.

Asal Usul Batang (Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah)

Pada zaman dahulu, kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh seorang raja bernama Sultan Agung. Pada masa itu, kerajaan Mataram berselisih paham dengan pasukan Belanda. Sultan Agung bermaksud menggempur Belanda yang saat itu berada di Batavia. Sultan Agung berencana mengerahkan pasukan dari berbagai wilayah pulau Jawa. Akan tetapi pengerahan pasukan itu tidaklah mudah, karena mereka butuh pos-pos untuk persediaan logistik pasukan. Untuk memenuhi kebutuhan logistik pasukan Mataram, Sultan Agung akhirnya mengutus Raden Bahurekso untuk membabat hutan Roban dan menjadikannya persawahan.

Sultan Agung memerintahkan Raden Bahurekso untuk melakukan pembabatan hutan roban dan menjadikannya lahan persawahan. Untuk itu, Raden Bahurekso dipersilahkan membawa pasukan sebanyak-banyaknya dari Mataram. Raden Bahurekso pun menyanggupi perintah dari Sultan Agung.

Dalam pelaksanaan perintah Sultan Agung, Raden Bahurekso bersama pasukannya menemui banyak hambatan. Hambatan awal yang dihadapi pasukan Raden Bahurekso yaitu munculnya penyakit aneh yang membuat banyak sekali pekerja yang sakit dan meninggal dunia. Diyakini penyebab pekerja yang sakit tersebut yaitu karena diganggu oleh jin, setan, dan siluman penjaga hutan Roban yang dipimpin oleh Raja Dadungawuk. Dadungawuk bersama pasukan silumannya tidak berkenan jika hutan Roban dibabat menjadi sawah. Untuk menggagalkannya, mereka terus-menerus mengganggu Raden Bahurekso dan para pekerjanya.

Raden Bahurekso tidak bisa membiarkan para pekerjanya meninggal lebih banyak lagi. Ia pun menghadang Dadungawuk untuk melakukan perlawanan. Raden Bahurekso dan Dadungawuk terlibat dalam perlawanan yang sengit. Keduanya saling mengeluarkan kekuatan hebatnya. Iya tapi kalau

Akhirnya Dadungawuk mengaku kalah. Namun, Dadungawuk meminta satu syarat agar ia dan pasukannya tidak mengganggu Raden Bahurekso dan pasukannya lagi. Adapun syarat yang diminta Dadungawuk yaitu Raden Bahurekso harus membagi hasil sawah dengan Dudangawuk beserta pasukannya. Raden Bahurekso pun menyanggupi terkait syarat yang diajukan Dadungawuk. Mendengar kesanggupan Raden Bahurekso, Dadungawuk pun pergi diikuti pasukan silumannya. Mereka pergi tak jauh dari lokasi persawahan yang dibuat Raden Bahurekso.

Pembabatan hutan Roban sebelah barat telah selesai. Sawah ditanami padi dan tanaman lainnya sudah siap. Akan tetapi, sistem pengairan belum ada. Inilah tugas Raden Bahurekso berikutnya, membuat saluran irigasi.

Pada proses pembuatan saluran irigasi, Raden Bahurekso juga mengalami hambatan. Berulangkali para pekerjanya dibuat kewalahan, karena diganggu terus-menerus oleh raja Uling bernama Dribikso bersama pasukan silumannya. Bendungan air yang sudah dibuat para pekerja selalu rusak keesokan harinya, sehingga pekerjaan membuat bendungan berkali-kali diperbaiki agar tidak jebol.

Melihat kondisi ini, Raden Bahurekso akhirnya turun tangan. Raden Bahurekso menyerang semua anak buah Raja Uling yang bermarkas di Kedung sungai. Serangan tiba-tiba itu membuat anak buah Raja Uling mati berjatuhan dengan bersimbah darah. Melihat anak buahnya banyak yang tewas membuat Raja Uling marah besar. Akhirnya, dengan mengacungkan kesaktian pedang Swedang, Raja Uling menyerang Raden Bahurekso. Karena kesaktian pedang Swedang tersebut, Raden Bahurekso dapat dikalahkan.

Asal-Usul Nama Kabupaten Batang Raden Bahurekso Raja Uling

Luka Raden Bahurekso setelah kalah melawan Raja Uling diobati oleh ayahnya sendiri, yakni Ki Ageng Cempaluk. Ki Ageng Cempaluk memberikan nasihat agar Raden Bahurekso mengganti siasat melawan Raja Uling. Untuk melawan siluman Raja Uling, Raden Bahurekso harus menyamar dan masuk ke dalam kerajaan Uling. Di dalam istana itu, kau akan bertemu dengan siluman cantik bernama Dribusowati. Ajaklah dia bekerjasama. Raden Bahurekso pun menerima dan akan melaksanakan nasihat dari ayahnya.

Setelah lukanya sembuh, Raden Bahurekso menyusun siasat agar berhasil masuk istana kerajaan siluman Raja Uling. Raden Bahurekso menyelinap diam-diam diantara pasukan siluman. Di tempat itu, Raden Bahurekso melihat siluman yang sangat cantik, yakni Dribusowati. Dengan kecerdikannya, Raden Bahurekso akhirnya bisa bertemu dengan Dribusowati yang cantik jelita.

Dribusowati terpesona dengan kecerdasan dan kehebatan Raden Bahurekso. Mengetahui Dribusowati sudah jatuh hati padanya, Raden Bahurekso segera meminta tolong untuk diambilkan pedang Swedang milik Raja Uling. Dribusowati mengambil pedang swdang milik kakaknya yang sedang tidur. Kemudian dengan sembunyi-sembunyi memberikan pedang tersebut pada Raden Bahurekso.

Raja Uling terkejut mendapati pedang saktinya menghilang dari tempat penyimpanannya. Raja Uling marah besar. Ia berusaha mencari di berbagai tempat di dalam istananya, namun tidak menemukannya. Di tengah kemarahan Raja Uling, tiba-tiba Raden Bahurekso datang dengan membawa pedang Swedang.

Melihat Raden Bahurekso membawa pedangnya, Raja Ulingpun meminta agar pedangnya dikembalikan. Akhirnya, keduanya pun terlibat dalam perlawanan sengit. Mereka saling adu kesaktian, tetapi Raden Bahurekso dengan kesaktian dan pedang Swedang ditangannya akhirnya bisa mengalahkan Raja Uling.

Dengan kekalahan Raja Uling, tidak ada lagi yang menghalangi Raden Bahurekso beserta pekerjanya untuk membuat saluran irigasi. Dalam proses pembuatan saluran irigasi, dijumpai ada watang atau batang kayu besar yang melintang dan menghalangi aliran air. Mengetahui hal tersebut, Raden Bahurekso meminta pekerjanya untuk mengangkat batang kayu tersebut. Sudah berpuluh-puluh pekerja mengangkat batang kayu, akan tetapi tidak berhasil sama sekali.

Akhirnya Raden Bahurekso turun tangan sendiri untuk mengangkatnya. Setelah bersemedi sejenak untuk memusatkan kekuatan dan kesaktiannya, Raden Bahurekso dengan mudah berhasil mengangkat batang kayu tersebut hanya dengan satu kali angkat atau ngembat.

Peristiwa mengangkat batang kayu besar itu dikenal dengan sebutan “ngembat watang” yang menjadi asal-usul nama “Batang”, yaitu gabungan dari kata “ngembat” dan “watang”. Dalam perjalanan sejarah pemerintahannya, kabupaten Batang pernah digabungkan dengan Kabupaten Pekalongan pada tahun 1936 dan resmi menjadi kabupaten Batang yang berdiri sendiri Pada tahun 1966 sampai sekarang dengan motto Batang Berkembang.

Posting Komentar untuk "Asal-Usul Nama Kabupaten Batang (Raden Bahurekso, Raja Uling)"